1.   Pengertian Saksi

Menurut Bahasa, saksi adalah sebuah kata benda, dalam bahasa Indonesia berarti “Orang yang melihat atau mengetahui sendiri sesuatu peristiwa (kejadian)”. Sedangkan menurut Istilah, dalam buku-buku fikih, agak sulit ditemukan adanya pengertian saksi menurut istilah syarak, pada umumnya yang diutamakan adalah pengertian kesaksian. Oleh karena itu, sebelum mengemukakan pengertian saksi, penulis lebih dahulu mengungkap kan pengertian kesaksian menurut para ulama.

  1. Adanya suatu perkara atau peristiwa sebagai objek
  2. Dalam objek tersebut tampak hak yang harus ditegakkan
  3. Adanya orang yang memberitahu objek tersebut secara apa adanya tanpa komentar
  4. Orang yang memberitahukan itu memang melihat atau mengetahui benar objek tersebut.
  5. Pemberitahuan tersebut diberikan kepada orang yang berhak untuk menyatakan adanya hak bagi orang tersebut

Sedangkan pengertian saksi menurut istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Al-Jauhari, adalah sebagai berikut : “Saksi adalah orang yang mempertanggungjawabkan kesaksiannya dan mengemukakannya, karena dia menyaksikan sesuatu (peristiwa) yang lain tidak menyaksikannya”.

Dari Al-Qur’an

Dalam surat Al-Baqarah ayat 282 disebutkan :

دُعُوا مَا إِذَا الشُّهَدَاءُ يَأْبَ وَلا

…. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil….

Sabda Nabi Saw:

Dari Zaid bin Khalid Al-Jauhani r.a bahwasannya Nabi Saw., bersabda: Apakah tidak ku kabarkan kepada kamu tentang sebaik-baiknya saksi, ialah orang memberikan kesaksiannya sebelum ia diminta untuk mengemukakan”. (HR Muslim).

Imam Abu Hanifah dan Syafi’i sependapat bahwa saksi termasuk syarat nikah. Tetapi kemudian mereka berselisih pendapat, apakah saksi tersebut merupakan syarat kelengkapan yang diperintahkan ke­tika hendak menggauli istri, ataukah merupakan syarat sah yang dipe­rintahkan ketika diadakan akad nikah?

Mereka juga sependapat bahwa nikah sirri (rahasia) tidak boleh. Kemudian mereka beselisih pendapat apabila terdapat dua orang saksi dan keduanya diamanati untuk merahasiakan perkawinan, apakah hal ini dianggap nikah sirri atau tidak’?

Imam Malik berpendapat bahwa yang demikian itu adalah nikah sirri dan dibatalkan. Imam Abu Hanifah dan Syafi’i berpendapat bahwa hal itu bukan kawin sirri.

Bagi fuqaha yang berpendapat bahwa saksi merupakan hukum syara’, maka mereka mengatakan bahwa saksi menjadi salah satu syarat sahnya perkawinan.[1]

Sedang bagi fuqaha yang berpendapat bahwa kedudukan saksi ada­lah untuk menguatkan perkawinan, maka, mereka menganggap saksi sebagai syarat kelengkapan.

Dasar persoalan ini adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas tidak ada pernikahan kecuali dengan adanya dua orang saksi yang adil dan seorang wali yang cerdik.

Tidak ada seorang pun di antara sahabat yang menentang hadits ini. Dan oleh karenanya kebanyakan orang menganggap tiadanya sikap menentang dari kalangan sahabat sebagai ijma’. Tetapi ini adalah lemah.

Ad-Daruquthni mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dengan marfu’, dan disebutkan pula bahwa dalam sanadnya terdapat orang­-orang yang tidak dikenal.

2.   Syarat-syarat

a.      Islam

b.      Balig

c.      Berakal

d.      Adil

e.      Dapat berbicara

f.       Ingatannya baik

g.      Bersih dari Tuduhan


[1] Ibnu Rusy,Bidayatul Mujtahid,(Semarang:1990),cet,ke-1.